Punakawan merupakan sebutan bagi empat orang abdi yang bertugas sebagai penasehat dan pemberi petuah bijak bagi para tokoh Pandawa. Mereka mendampingi para Pandawa dimanapun mereka berada, baik dalam susah maupun senang. Keempat Punakawan ini menggambarkan cipta, rasa, karsa, dan karya.
Semar
Semar memiliki nama lengkap Semar Badranaya. Badra berarti rembulan atau keberuntungan baik. Sedangkan Naya berarti prilaku bijaksana. Semar Badranaya mengandung makna, di dalam sikap bijaksana tersimpan keberuntungan baik bak orang kejatuhan rembulan. Sering dikisahkan tokoh semar menjadi rebutan para raja karena dengan semar dipihaknya mereka selalu memiliki keberuntungan baik.
Semar digambarkan memiliki kekuatan tersembunyi, karena dianggap sebagai titisan dewa, sering menjadi tokoh penengah dan penyelamat. Meskipun hanya rakyat biasa dan seorang pembantu (punakawan), ia adalah pengayom bangsawan, khususnya keluarga Pandawa.
Cepot (Astrajingga)
Tokoh banyolan yang paling sering ditonjolkan para dalang wayang golek adalah Cepot.
Cepot alias Astrajingga adalah anak tertua dari Semar. Ibunya bernama Sutiragen.
Tokoh ini memiliki sifat yang humoris, meskipun demikian lewat humor humornya dia memberikan nasehat petuah dan kritik sehingga ia menjadi pusat lelucon setiap pertunjukkan golek.
Lakonnya biasanya dikeluarkan oleh Dalang di tengah kisah untuk menyampaikan pesan bebas bagi pemirsa dan penonton baik itu nasihat maupun sindiran yang tentu saja disampaikan secara humor.
Dawala
Dawala merupakan Punakawan yang digambarkan memiliki hidung mancung, muka bersih, sabar, setia, dan penurut. Tetapi kurang cerdas dan kurang begitu trampil.
Biasanya dimunculkan bersamaan dengan Astrajingga alias Cepot dan Semar sebagai teman/partner humor
Gareng
Dalam Wayang golek tokoh Gareng adalah anak terakhir dari Semar. Sama seperti tokoh Astrajingga dan Dawala, tokoh Gareng biasanya dikeluarkan sebagai hiburan antara tokoh wayang dengan audiens.
Dengan adanya tokoh Punakawan, pagelaran cerita wayang menjadi lebih hidup karena ada dialog dan interaksi antara dalang (wayang) dengan audiens.
Tokoh Punakawan seringkali menjadi sentral dalam menyampaikan pesan dan nasehat agar lebih mudah dicerna oleh audiens.
Kamis, 17 Februari 2011
Kenalan dengan para Punakawan
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 18.18 0 komentar
Label: Seni Rupa
Pandawa Lima
Pandawa (Panca Pandawa) merupakan sebutan bagi kelima putra Prabu Pandu Dewanata, raja Kerajaan Astina Pura. Dia memiliki dua orang istri, yaitu: Dewi Kuntitalibrata dan Dewi Madrim. Dari pernikahannya dengan Dewi Kunti, ia memiliki 3 orang putra, yaitu: Yudhistira, Bima, dan Arjuna. Sedangkan dengan Dewi Madrim memiliki putra kembar bernama Nakula dan Sadewa.
Kelima putra ini dibesarkan oleh Dewi Kunti, karena Prabu Pandu Dewanata dan Dewi Madrim telah wafat sewaktu mereka semua masih kecil.
Yudhistira atau sering disebut juga Puntadewanata adalah Pandawa tertua. Memiliki sifat penyabar, jujur, suka menolong sesama, mencintai orang tua dan melindungi saudara-saudaranya. Ia ahli dalam hal kerohanian, sehingga disebut berdarah putih dan mementingan perdamaian, persatuan dan kesejahteraan bersama. Yudistira dianugrahi senjata pusaka Jamus Kalimasada yang memiliki kekuatan untuk memberikan perlindungan dan petunjuk pada kebenaran dan kesejahteraan.
Pandawa yang kedua adalah Bima atau Werkodara atau Bratasena. Arti nama Bima adalah setia pada satu sikap. Ia tidak suka berbasa-basi, dan tidak pernah menjilat ludahnya sendiri. Sifatnya jujur, tidak sombong, patuh pada para gurunya, dan juga sangat mencintai ibu dan saudara-saudaranya. Selain memiliki kekuatan yang luarbiasa yaitu mampu membongkar gunung dan menguasai kekuatan angin, kesaktiannya terletak pada Kuku Pancanaka di tangan kanan dan kirinya. Bima adalah perlambang kekuatan dari Panca Pandawa.
Pandawa yang ketiga adalah Arjuna. Wajahnya sangat tampan hingga mempesona hampir semua wanita. Ia juga mahir memanah, ksatria yang cerdik dan pintar, penolong sesama, ahli bertapa, dan ahli dibidang kebudayaan dan kesenian. Arjuna memiliki beberapa nama, diantaranya: Janaka, Pandupura, Kuntadi, dll.
Nakula adalah saudara tua dari pasangan putra kembar Nakula dan Sadewa. Meskipun berbeda ibu dengan saudara yang lain, persaudaran mereka tetap erat. Nakula dikenal juga dengan nama Raden Pinten. Selain sakti, berbudi pekerti luhur, ia juga ahli dalam bidang pertanian.
Walaupun merupakan ksatria termuda dari Panca Pandawa, Sadewa tidak kalah dengan kakak-kakaknya. Ia juga sangat sakti, berbudi pekerti luhur, mencintai orang tua dan sesama, berbeda dengan Nakula yang ahli dalam pertanian maka Sadewa ahli dalam peternakan. Sadewa dikenal juga dengan nama Raden Tangsen.
Nakula dan Sadewa mencerminkan tingkahlaku untuk mencapai kesejahteraan hidup atau kemakmuran hidup.
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 18.09 0 komentar
Label: Seni Rupa
WAYANG KULIT
Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata Ma Hyang artinya menuju kepada yang maha esa, . Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang(lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabharata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita Panji.
Pertunjukan wayang kulit telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003, sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga ( Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity ). Wayang kulit lebih populer di Jawa bagian tengah dan timur, sedangkan wayang golek lebih sering dimainkan di Jawa Barat.
Jenis-jenis Wayang Kulit Berdasar Daerah :
* Wayang Kulit Gagrag Yogyakarta
* Wayang Kulit Gagrag Surakarta
* Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
* Wayang Kulit Gagrag Jawa Timuran
* Wayang Bali
* Wayang Kulit Banjar (Kalimantan Selatan)
* Wayang Palembang (Sumatera Selatan)
* Wayang Betawi (Jakarta)
* Wayang Cirebon (Jawa Barat)
* Wayang Madura (sudah punah)
* Wayang Siam
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 18.05 0 komentar
Label: Seni Rupa
kesenian rakyat dan upacara
Tari Tradisional dalam upacara adat saling berkaitan, baik sebagai pelengkap maupun sebagai perantara mencapai tujuan. Sebagai contoh, tarian untuk keselamatan dan perlindungan biasanya masyarakat mengadakan pertunjukan kesenian. Kesenian tertentu sangat dekat dengan konteks budaya dan tujuan dilakukannya upacara keselamatan dan perlindungan. Tari-tarian tertentu tersebut sering digunakan untuk upacara perkawinan, khitanan, dan bersih desa dan banyak acara lainnya. Secara hirarki pelaksanaan dan tata cara pertunjukan, tari-tarian tertentu pada pementasannya diatur dalam bentuk upacara. Tata cara pementasan dapat dirinci dan diatur sedemikian rupa sehingga dalam pelaksanaannya mampu berjalan lancar, tertib, dan selesai tepat waktu. Namun dalam kegiatan lain, pementasan tari-tarian tertentu dipentaskan banyak mengalami hambatan. Secara ilustratif kegiatan pelaksanaan pementasana acara kesenian dan tradisi upacara tertentu kurang berjalan seperti harapan. Misalnya pada saat upacara perkawinan secara umum dapat berlangsung kurang lebih seperti di bawah ini. Upacara diawali dengan acara pengenalan lebih dekat keluarga mempelai pria ke mempelai wanita. Acara bertujuan agar keluarga pria mengenal calon menantu. Selanjutnya, acara lamaran bertujuan meminta secara resmi calon penganten wanita untuk dijadikan istri. Acara berikutnya adalah memberikan peningset atau ikatan dalam bentuk seperangkat pakaian lengkap, kepada calon pengantin wanita sesuai tanggal dan hari yang ditetapkan. Sehari menjelang pernikahan dilakukan siraman baik pihak mempelai wanita maupun mempelai pria dilakukan mandi secara simbolis yang menunjuka bahwa ke dua mempelai berangkat dalam badan yang bersih. Pada acara ini juga dikenal sebagai widodareni (Jawa) yakni acara dimana berbagai kerabat mempelai pria dan mempelai wanita saling bersilahturahmi. Kemudian dilanjutkan upacara panggih pada pagi harinya dengan melakukan sederetan upaca prosesi sampai akad nikah hingga keduanya ke pelaminan. Untuk keperluan upacara bersih desa dapat dilakukan dengan beberapa tahapan yang kurang lebih dapat disebutkan adalah sebagai berikut. Upacara tradisi bersih desa dilaksanakan dalam setahun sekali yakni pada saat penduduk setelah menuai panen raya secara serentak. Tujuan pelaksanaan upacara adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan bahwa masyarakat diberi limpahan keberhasilan panen, cukup untuk digunakan beberapa bulan ke depan dari hasil bumi yang diperoleh pada panen raya ini. Hal ini menunjukan bahwa Dewi Sri atau Dewi Padi mengabulkan permintaan masyarakat. Tata cara dan bentuk model pertunjukannya secara umum dapat diuraikan di bawah ini. Adapun prosesi kegiatan upacara yang telah lama dan dilestarikan dengan beberapa tahapan adalah sebagai berikut:
1. Menyimpan padi di lumbung secara rapi,
2. Membersihkan jalan, kebun, halaman masjid dan bergotongroyong,
3. Mengadakan masak bersama dan kunjung-mengunjungi antar tetangga,
4. Mengadakan hiburan salah satunya pertunjukan kesenian/tari-tarian.
Adapun beberapa catatan kesenian/tari yang digunakan untuk upacara seperti di depan telah disebut adalah :
______________________________________________________________________________
No -> Kesenian/tarian –> Asal Daerah ———-> Jenis Upacara
_____________________________________________________________________________
1. -> Dolalak ———-> Purworejo/Jateng —–> Bersih Desa
2. -> Barong ———-> Bali —————–> Keagamaan
3. -> Rangde ———> Bali —————–> Tolak Bala
4. -> Sekapur Sirih —-> Jambi —–> Penyambutan tamu Agung
5. -> Pangayo —-> Sulawesi Selatan —–> Kematian
6. -> Pakarena -> Sulawesi Selatan –> Penyambutan tamu Agung
7. -> Bisu ———> Sulawesi Selatan —–> Pelantikan Kepala Suku
8. -> Bedhoyo 5 dan 9 –> Surakarta ————> Pelantikan Raja
9. -> Srimpi 9 ———> Surakarta ————> Turunnya Raja
10.-> Bedhoyo Anglir -=-> Yogyakarta ———–> Naik tahta Raja
11.-> Jothil ———> Yogyakarta ———–> Panen
12.-> Ndi ——–> Irian Jaya/Papua —–> Pelantikan Kepala Suku
13.-> Tabot ——-> Bengkulu ———> Pelantikan Ketua Suku
14.-> Piring ———–> Minang/Sumbar ——–> Panen
15.-> Galombang —>Minang/Sumbar —-> Penyambutan tamu Agung
16.-> Tor-tor ——> Sumatra Utara —-> Penyambutan tamu Agung
17.-> Cewan —–> Sumatra Utara —–> Penyambutan tamu Agung
18.-> Mainang P Kampai -> Sumatra Utara —–> Pergaulan Remaja
19.-> Karambik ——> Sumatra Utara ——–> Melaut
20.-> Saman/Saudati —> Aceh/NAD —-> Penyambutan tamu Agung
21.-> Bantal Tapok —> Aceh/NAD –> Pernikahan/lahirnya bayi
22.-> Gendhing Sriwijaya -> Sumatra Selatan -> Penyambutan tamu Agung
23.-> Paget Penganting -> Sumatra Selatan ——> Pernikahan
24.-> Sinjang ———-> Sumatra Selatan ——> Pergaulan Remaja
25.-> Pasembahan —-> Sumatra Selatan —–> Penyambutan tamu
26.-> Japin ————> Sumatra Selatan ——> Tamu kenegaraan
27.-> Cangget ——-> Lampung ————-> Tamu kenegaraan
28.-> Selampit Delapan -> Jambi —————-> Pergaulan Remaja
29.-> Topeng ——-> Jawa Barat ——–> Klasik/Kenegaraan
30.-> Jaipongan —–> Jawa Barat ——–> Pergaulan sosial/masal
31.-> Ogoh-ogoh –> Bali ———-> Upacara Ngaben/lematian
32.-> Bondoyudo ———-> Bali ———-> Kepahlawanan
33.-> Ngemo dan Jejejr —> Jawa timur ———–> Pergaulan Sosial
34.-> Belian ——-> KalTim ———> Menyembuhkan orang sakit
35.-> Topeng ——> Jakarta/DKI —–> Menyembuhkan orang sakit
36.-> Ngarojeng ——-> Jakarta/DKI ———> Panen
37.-> Lense ———–> Sulawesi Tenggara —> Upacara laut
38.-> Dabang ——> Sulawesi Tengah —–> Upacara Asah Gigi
39.-> Kataga ————-> NTT ——————> Upacara sambut Tamu
40.-> Kecak ————–> Bali —————–> Keagamaan
Pelaksanaan upacara di atas, pada dasarnya untuk setiap
daerah dan tata cara tradisinya yang dikembangkan memiliki
karakteristik dan fungsi yang berbeda pula. Hal ini bergantung
kepada karakteristik masyarakat masing-masing daerah yang
meyakini dan mempercayai bahwa pelaksanaan bentuk upacara
tradusi dimaksud memiliki kekuatan harapan agar di kemudian
hari semakin meningkat keberhasilannya dan mendatangkan
berkah yang positif bagi kelancaran dan kelangsungan kegiatan
seperti yang diharapkan.
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 17.48 0 komentar
Label: Seni Rupa
SEJARAH BATIK INDONESIA
Batik secara historis berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya. Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini.
Jenis dan corak batik tradisional tergolong amat banyak, namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang amat beragam. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.
Perkembangan Batik di Indonesia
Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari pengikut raja yang tinggal diluar kraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Proses pembuatan batik
Dalam perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri. Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari : pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Jadi kerajinan batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.
Batik Pekalongan
Meskipun tidak ada catatan resmi kapan batik mulai dikenal di Pekalongan, namun menurut perkiraan batik sudah ada di Pekalongan sekitar tahun 1800. Bahkan menurut data yang tercatat di Deperindag, motif batik itu ada yang dibuat 1802, seperti motif pohon kecil berupa bahan baju.
Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan terjadi setelah perang besar pada tahun 1825-1830 di kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dengan terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah - daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik.
Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang.
Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo.
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Cina, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik.
Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh peranakan Cina. Batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang.
Perkembangan budaya teknik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh negara-negara itu. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa.
Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.
Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan Pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantara. Ikon bagi karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal itu disebabkan banyaknya industri yang menghasilkan produk batik. Karena terkenal dengan produk batiknya, Pekalongan dikenal sebagai KOTA BATIK. Julukan itu datang dari suatu tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah, perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.
Batik yang merupakan karya seni budaya yang dikagumi dunia, diantara ragam tradisional yang dihasilkan dengan teknologi celup rintang, tidak satu pun yang mampu hadir seindah dan sehalus batik Pekalongan.
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 02.12 1 komentar
Label: Seni Rupa
Kamis, 10 Februari 2011
Cara membuat batik tulis
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 18.39 0 komentar
Label: Seni Rupa
Cara membatik Jumput
-Sediakan kain katun, lebih baik kain katun khusus untuk membatik karena kanji pelapisnya sudah dibuang (istilah batiknya: sudah dikemplong). Kalau membeli katun biasa, sebaiknya dicuci dulu. Untuk pemula, cukup 1 X 1 meter saja.
- Sediakan batu kecil dalam berbaga ukuran, atau kelereng dalam berbagai ukuran, dan karet gelang (warna putih agar tidak mengkontaminasi warna) atau tali raffia.
- Sediakan daun atau kulit pohon yang akan digunakan untuk bahan pewarna alami. Cincang supaya mudah dilembutkan.
- Sediakan blender atau alat penumbuk.
-Sediakan jeruk nipis atau kapur sirih atau cuka dapur untuk mengikat warna.
Caranya:
Buat design berupa garis atau bentuk apapun yang Anda inginkan tipis saja.
Lalu ikat kerikil atau kelereng di garis tersebut. Bisa diikat sekali atau dua kali.
Haluskan bagian tanaman yang Anda pilih sesuai dengan yang Anda inginkan memakai blender (lihat catatan di bawah). Bila memakai tumbukan setelah ditumbuk ditambah air.
Peras hasilnya bisa ditambahkan air lagi sedikit saja.
Rendam air perasan dengan kain yang diikat selama semalam.
Keesokan harinya, peras kainnya lalu direndam di air yang telah Anda tambahi cuka atau air kapur atau air jeruk nipis. Setiap bahan pengikat ini akan memberi efek warna yang berbeda. Anda bisa bereksperimen. Bahkan bahan yang sama dengan jumlah ukuran yang berbeda akan menghasilkan warna yang berbeda. Biasanya hasil pewarna alami lebih lembut (kecuali akar mengkudu, umbi bit, blueberry, sogan, dan kulit pohon jati). Rendam beberapa sekitar 4-6 jam. Lalu diperas dan dibilas cukup sekali saja.
Dikeringkan ditempat teduh.
Air rendaman pewarna alami bisa dijadikan pupuk organic untuk tanaman Anda.
Selamat berkreasi membuat batik jumputan.
Catatan:
-Warna hijau: Daun suji, daun pandan, kangkung, bayam, daun katuk, dan daun-daunan lainnya.
-Warna merah: bunga rosella, kembang sepatu warna merah, akar mengkudu, angkak (beras yang difermentasi), buah merah (ini dipakai di Papua) dan buah serta bunga warna merah lainnya.
-Warna ungu: kulit manggis, umbi bit.
-Warna kuning: temu mangga, temulawak
-Warna oranye: Kunyit, wortel, kayu secang, daun pacar/inai (bisa oranye ke merahan)
-Warna coklat: Teh kental, kopi kental, kulit kayu jati, dan ada beberapa batang kayu yang biasa dipakai mewarnai batik.
-Warna hijau olive: Daun sirih (bisa berubah warna tergantung jenis pengikat warna yang dipakai. Kapur sirih akan memberikan warna gradasi coklat –olive)
-Warna coklat kemerahan: Gambir, daun sirih dan pinang.
-Warna biru: Buah duwet, bluberi
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 18.34 0 komentar
Label: Seni Rupa
Kamis, 27 Januari 2011
KARIKATUR
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 19.00 0 komentar
Label: Seni Rupa
Kain Sasirangan, kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan
| Contoh batik sasirangan |
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 18.42 0 komentar
Label: Seni Rupa
Pengertian Seni Rupa Tradisional, Modern dan Kontemporer
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 18.23 0 komentar
Label: Seni Rupa
Senin, 24 Januari 2011
Aliran seni lukis
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 15.47 0 komentar
Label: Seni Rupa
Sejarah seni lukis di Indonesia
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 15.46 0 komentar
Label: Seni Rupa
Sejarah umum seni lukis
Diposting oleh mencintai seni budaya :) di 15.45 0 komentar
Label: Seni Rupa

