THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Kamis, 10 Februari 2011

Tari Torompoi



Torompio” adalah ungkapan dalam bahasa Pamona, Sulawesi Tengah. Ungkapan ini terdiri atas dua kata, yakni “toro” yang berarti “berputar” dan “pio” yang berarti “angin”. Jadi, “torompio” berarti “angin berputar”. Makna yang terkandung dalam ungkapan tersebut adalah “gelora cinta kasih” yang dilambangkan oleh tarian yang dinamis dengan gerakan berputar-putar bagaikan insan yang sedang dilanda cinta kasih, sehingga tarian ini disebut torompio. Pengertian gelora cinta kasih sebenarnya bukan hanya untuk sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta, melainkan juga untuk semua kehidupan, seperti: cinta tanah air, cinta sesama umat, cinta kepada tamu-tamu (menghargai tamu-tamu) dan lain sebagainya. Namun, yang lebih menonjol ialah cinta kasih antarsesama remaja atau muda-mudi, sehingga tarian ini lebih dikenal sebagai tarian muda-mudi. Torompio dalam penampilannya sangat ditentukan oleh syair lagu pengiring yang dinyanyikan oleh penari dan pengiring tari.
Tarian ini dahulu ditarikan secara spontan oleh para remaja dengan jumlah yang tidak terbatas dan dipergelarkan di tempat terbuka, seperti halaman rumah atau tempat tertentu yang agak luas. Para penontonnya muda-mudi yang berdiri dan membentuk lingkaran, karena tari ini didominasi oleh komposisi lingkaran dan berbaris.

Cara membuat batik tulis


Berikut langkah dan proses pembuatan yang biasa dilakukan:

Awalnya, kain (mori) pabrikan diloyor (diguyur) terlebih dahulu agar bersih. Kemudian kain dikemplong guna memadatkan serat kainnya. Setelah itu, kain mori dipotong sesuai kebutuhan, kemudian dipola atau digambar dengan motif sesuai keinginan dengan menggunakan pensil.

Disinilah penulisan sesungguhnya, karena membuat motif adalah proses menuangkan ide, filosofi dan pesan ke dalam kain kosong hingga berwarna dan menjadi sebuah karya seni, seperti halnya pelukis menggambarkan idenya diatas kanvas. Setelah itu, dibatik lilin dengan canting klowongan sesuai gambar pola.

Langkah berikutnya, kain bergambar pola dicanting ngrengreng atau mengisi bagian yang kosong. Lalu kain dibalik untuk dibatik lagi (fiterusi).

Proses selanjutnya, kain dicanting tembokan lalu diwarnai hitam (diwedel) dengan nila atau tunjung (bahan-bahan warna alami). Setelah itu kain dibersihkan untuk dibatik lagi melalui dua cara (dibironi atau diklesik).

Kain lalu diberi warna soga atau warna alam sesuai keinginan, kemudian dilorod (dihilangkan lilinnya). Terakhir, kain dikanji dengan tepung tapioka.

Kiat dan tips mencuci dan menjaga keindahan batik tulis tradisional

-          Kain batik tulis tradisional disarankan untuk dicuci dengan menggunakan sari
       lerak atau sabun khusus batik supaya warna tetap cerah
-         Hindari penggunaaan mesin cuci terutama dalam mencuci busana kain batik berbahan dasar sutra dan tenunan tangan (ATBM)
-         Hindari menjemur kain batik langsung dibawah sinar matahari. Cukup diangin-anginkan
-         Kain batik jangan diseterika dengan suhu panas
-         Simpanlah kain batik tulis di almari dengan ratus wangi supaya dijauhi  rengat

Sasando: Alat Musik Tradisional dari Rote


Indonesia kaya akan berbagai kesenian daerah yang mengagumkan, termasuk di dalamnya adalah berbagai alat musik tradisional dengan kekhasan bunyiannya. Salah satu alat musik yang harus diperhatikan untuk tetap dipelihara adalah sebuah alat instrumen petik asal Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur yang bernama Sasando, yaitu alat musik yang ditemukan sejak abad 15.
Sasando adalah sebuah alat instrumen petik musik. Bentuk sasando mirip dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola, dan kecapi. Tetapi keunikannya adalah bagian utama sasando berbentuk tabung panjang seperti harpa yang biasanya terbuat dari bambu. Sasando mempunyai media pemantul suara yang terbuat dari daun pohon gebang (sejenis pohon lontar yang banyak tumbuh di Pulau Timor dan Pulau Rote) yang dilekuk menjadi setengah melingkar.
Sasando berbentuk tabung panjang yang biasanya terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah yang diberi ganjalan-ganjalan, di mana senar-senar (dawai-dawai) direntangkan di tabung dari atas ke bawah bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda pada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.
Bunyi sasando sangat unik jika dibandingkan dengan gitar, biasa sasando lebih bervariasi. Hal ini karena sasando memiliki 28 senar. Itulah sebabnya memainkan sasando tidaklah mudah karena seorang pemain sasando harus  mampu membuat ritme dan feeling bunyi nada yang tepat dari seluruh senar yang ada. Sasando dengan 28 senar ini dinamakan sasando engkel, sedangkan jenis sasando dobel memiliki 56 senar, bahkan ada yang 84 senar.
Cara memainkan sasando adalah dengan dipetik seperti memainkan gitar. Tetapi sasando tidak memiliki chord (kunci) dan senarnya harus dipetik dengan dua tangan, sehingga lebih mirip harpa. Sampai sekarang hampir semua bahan yang dipakai untuk membuat sasando adalah bahan asli, kecuali senarnya.
Pada kenyataannya, tidak banyak lagi orang yang mampu memainkan alat musik ini. Orang-orang tua yang selalu bangga memainkan sasando bagi anak-anak mereka atau dalam upacara-upacara adat, lengkap dengan topi TiiLangga, pakaian dan tarian adat, sudah banyak yang meninggal. Sementara itu generasi muda tak banyak yang tertarik untuk sekadar mengenal apalagi belajar memainkan.

Cara membatik Jumput


Persiapan membuat batik jumputan:
-Sediakan kain katun, lebih baik kain katun khusus untuk membatik karena kanji pelapisnya sudah dibuang (istilah batiknya: sudah dikemplong). Kalau membeli katun biasa, sebaiknya dicuci dulu. Untuk pemula, cukup 1 X 1 meter saja.
                               
- Sediakan batu kecil dalam berbaga ukuran, atau kelereng dalam berbagai ukuran, dan karet gelang (warna putih agar tidak mengkontaminasi warna) atau tali raffia.

- Sediakan daun atau kulit pohon yang akan digunakan untuk bahan pewarna alami. Cincang supaya mudah dilembutkan.

- Sediakan blender atau alat penumbuk.

-Sediakan jeruk nipis atau kapur sirih atau cuka dapur untuk mengikat warna.

Caranya:
Buat design berupa garis atau bentuk apapun yang Anda inginkan tipis saja.
Lalu ikat kerikil atau kelereng di garis tersebut. Bisa diikat sekali atau dua kali.
Haluskan bagian tanaman yang Anda pilih sesuai dengan yang Anda inginkan memakai blender (lihat catatan di bawah). Bila memakai tumbukan setelah ditumbuk ditambah air.
Peras hasilnya bisa ditambahkan air lagi sedikit saja.
Rendam air perasan dengan kain yang diikat selama semalam.
Keesokan harinya, peras kainnya lalu direndam di air yang telah Anda tambahi cuka atau air kapur atau air jeruk nipis. Setiap bahan pengikat ini akan memberi efek warna yang berbeda. Anda bisa bereksperimen. Bahkan bahan yang sama dengan jumlah ukuran yang berbeda akan menghasilkan warna yang berbeda. Biasanya hasil pewarna alami lebih lembut (kecuali akar mengkudu, umbi bit, blueberry, sogan, dan kulit pohon jati). Rendam beberapa sekitar 4-6 jam. Lalu diperas dan dibilas cukup sekali saja.
Dikeringkan ditempat teduh.

Air rendaman pewarna alami bisa dijadikan pupuk organic untuk tanaman Anda.
Selamat berkreasi membuat batik jumputan.

Catatan:
-Warna hijau: Daun suji, daun pandan, kangkung, bayam, daun katuk, dan daun-daunan lainnya.
-Warna merah: bunga rosella, kembang sepatu warna merah, akar mengkudu, angkak (beras yang difermentasi), buah merah (ini dipakai di Papua) dan buah serta bunga warna merah lainnya.
-Warna ungu: kulit manggis, umbi bit.
-Warna kuning: temu mangga, temulawak
-Warna oranye: Kunyit, wortel, kayu secang, daun pacar/inai (bisa oranye ke merahan)
-Warna coklat: Teh kental, kopi kental, kulit kayu jati, dan ada beberapa batang kayu yang biasa dipakai mewarnai batik.
-Warna hijau olive: Daun sirih (bisa berubah warna tergantung jenis pengikat warna yang dipakai. Kapur sirih akan memberikan warna gradasi coklat –olive)
-Warna coklat kemerahan: Gambir, daun sirih dan pinang.
-Warna biru: Buah duwet, bluberi

Kamis, 27 Januari 2011

KARIKATUR


Karikatur adalah sebuah seni lukis ekspresi jiwa hati yang sedang dirasakan, lalu dikemukakan dengan media gambar yang menganggap itu adalah diri kita. Karikatur mencakup beberapa ekspresi yang sering di luapkan yaitu: rasa senang,sedih,khawatir, takut, marah, kecewa, dsb. 
Karikatur biasa digambarkan : 
1. Binatang
2. Seperti manusia 
3. Fasilitas hidupnya; 
   EX: rumah,dsb. 
4. Pemandangan sekitar hidup/ keberadaannya. Pokoknya berupa coretan ekspresi diri. Supaya karikatur tidak membosankan, maka diberilah warna pada gambar yang sudah jadi. Jika ada tambahan untuk mengemukakannya maka setiap gambar di beri kata dengan bahasa tertentu untuk mencerminkan dirinya.

Kain Sasirangan, kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan


kain sasirangan1 Kain Sasirangan, kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan
Contoh batik sasirangan
Kain sasirangan yang merupakan kerajinan khas daerah Kalimantan Selatan (Kalsel) menurut para tetua masyarakat setempat, dulunya digunakan sebagai ikat kepala (laung), juga sebagai sabuk dipakai kaum lelaki serta sebagai selendang,  kerudung, atau udat (kemben) oleh kaum wanita. Kain ini juga sebagai pakaian adat dipakai pada upacara-upacara adat, bahkan digunakan pada pengobatan orang sakit. Tapi saat ini, kain sasirangan peruntukannya tidak lagi untuk spiritual sudah menjadi pakaian untuk kegiatan sehari-hari, dan merupakan ciri khas sandang dari Kalsel. Di Kalsel, kain sasirangan merupakan salah satu kerajinan khas daerah yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Kata “Sasirangan” berasal dari kata sirang (bahasa setempat) yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah bahasa jahit menjahit dismoke/dijelujur. Kalau di Jawa disebut jumputan. Kain sasirangan dibuat dengan memakai bahan kain mori, polyester yang dijahit dengan cara tertentu. Kemudian disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan.
Proses Pembuatan Kain SasiranganPertama menyirang kain, Kain dipotong secukupnya disesuaikan untuk keperluan pakaian wanita atau pria. Kemudian kain digambar dengan motif-motif kain adat, lantas disirang atau dijahit dengan tangan jarang-jarang/renggang mengikuti motif. Kain yang telah dijahit, ditarik benang jahitannya dengan tujuan untuk mengencangkan jahitannya, sehingga kain mengerut dengan rapat dan kain sudah siap untuk masuk proses selanjutnya.
Kedua penyiapan zat warna, Zat warna yang digunakan adalah zat warna untuk membatik. Semua zat warna yang untuk membatik dapat digunakan untuk pewarnaan kain sasirangan. Tapi zat warna yang sering  digunakan saat ini adalah zat warna naphtol dengan garamnya. Bahan lainnya sebagai pembantu adalah soda api (NaOH), TRO/Sepritus, air panas yang mendidih. Mula-mula zat warna diambil secukupnya, kemudian diencerkan/dibuat pasta dengan menambahkan TRO/Spirtus, lantas diaduk sampai semua larut/melarut. Setelah zat melarut semua, kemudian ditambahkan beberapa tetes soda api dan terakhir ditambahkan dengan air panas dan air dingin sesuai dengan keperluan. Larutan harus bening/jernih. Untuk melarutkan zat warna naphtol sudah dianggap selesai dan sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan.
Untuk membuat warna yang dikehendaki, maka zat warna naphtol harus ditimbulkan/dipeksasi dengan garamnya. Untuk melarutkan garamnya, diambil sesuai dengan keperluan kemudian ditambahkan air panas sedikit demi sedikit sambil diaduk-aduk kuat-kuat sehingga zat melarut semua dan didapatkan larutan yang bening. Banyaknya larutan disesuaikan dengan keperluan. Kedua larutan yaitu naphtol dan garam sudah dapat dipergunakan untuk mewarnai kain sasirangan, yaitu dengan cara pertama-tama mengoleskan/menyapukan zat warna naphtol pada kain yang telah disirang yang kemudian disapukan lagi/dioleskan larutan garamnya sehingga akan timbul warna pada kain sasirangan yang sudah diolesi sesuai dengan warna yang diinginkan. Setelah seluruh kain diberi warna, kain dicuci bersih-bersih sampai air cucian tidak berwarna lagi.
Kain yang sudah bersih, kemudian dilepaskan jahitannya sehingga terlihat motif-motif bekas jahitan diantara warna-warna yang ada pada kain tersebut. Sampai disini proses pembuatan kain sasirangan telah selesai dan dijemur salanjutnya diseterika dan siap untuk dipasarkan.

Pengertian Seni Rupa Tradisional, Modern dan Kontemporer


Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan ini diciptakan dengan mengolah konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika.
1.
SENI RUPA TRADISIONAL
Pengertian
Seni tradisional adalah unsur kesenian yang menjadi bagian hidup masyarakat dalam suatu kaum/puak/suku/bangsa tertentu. Seni tradisional yang ada di suatu daerah berbeda dengan yang ada di daerah lain, meski pun tidak menutup kemungkinan adanya seni tradisional yang mirip antara dua daerah yang berdekatan.
Ciri-ciri
*
Penciptaannya selalu berdasarkan pada filosofi sebuah aktivitas dalam suatu budaya, bisa berupa aktivitas religius maupun seremonial/istanasentris.
*
Terikat dengan pakem-pakem tertentu.
Contoh
Wayang kulit, wayang golek, wayang beber, ornamen pada rumah-rumah tradisional di tiap daerah, batik, songket, dan lain-lain.
1.
SENI RUPA MODERN
Pengertian
Seni rupa modern adalah seni rupa yang tidak terbatas pada kebudayaan suatu adat atau daerah, namun tetap berdasarkan sebuah filosofi dan aliran-aliran seni rupa.
Ciri-ciri
*
Konsep penciptaannya tetap berbasis pada sebuah filosofi , tetapi jangkauan penjabaran visualisasinya tidak terbatas.
*
Tidak terikat pada pakem-pakem tertentu.
Contoh
Lukisan-lukisan karya Raden Saleh Syarif Bustaman, Basuki Abdullah, Affandi, S.Soedjojono dan pelukis era modern lainnya.
Seniman
Raden Saleh Syarif Bustaman, Abdulah Sr, Pirngadi, Basuki Abdullah, Wakidi, Wahid Somantri, Agus Jaya Suminta, S. Soedjojono, Ramli, Abdul Salam, Otto Jaya S, Tutur, dan Emira Sunarsa.
1.
SENI RUPA KONTEMPORER
Pengertian
Seni Kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini. Jadi seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Misalnya lukisan yang tidak lagi terikat pada Rennaissance. Begitu pula dengan tarian, lebih kreatif dan modern.
Ciri-ciri
*
Tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman.
*
Tidak adanya sekat antara berbagai disiplin seni, alias meleburnya batas-batas antara seni lukis, patung, grafis, kriya, teater, tari, musik, hingga aksi politik.
Contoh
Karya-karya happening art, karya-karya Christo dan berbagai karya enviromental art.
Seniman
Gregorius Sidharta, Christo, dan Saptoadi Nugroho.